JASINGA — Upaya memperkuat literasi, budaya, dan inovasi pendidikan kembali mendapat dorongan melalui peluncuran buku bertema integrasi kearifan lokal dalam dunia pendidikan modern. Buku ini lahir dari kolaborasi lintas sektor yang didukung oleh kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Peluncuran buku ini merupakan wujud nyata dari arahan dan kebijakan Kemendiktisaintek yang mendukung penguatan literasi, budaya, serta inovasi pendidikan di Indonesia. Kebijakan tersebut membuka ruang bagi sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan komunitas budaya.
Universitas Pakuan turut ambil bagian dengan senantiasa memberikan kontribusi pemikiran dan dukungan akademik bagi pengembangan modul dalam buku ini. Peran kampus sebagai pusat kajian dinilai penting untuk memastikan muatan lokal terintegrasi secara ilmiah dalam praktik pendidikan.
SMAN 1 Jasinga hadir sebagai mitra strategis yang membuka ruang eksplorasi pembelajaran inovatif berbasis budaya. Sekolah ini menjadi laboratorium nyata penerapan modul kearifan lokal di tingkat pendidikan menengah.
Tidak kalah penting, Grup Kesenian Bilik Jasinga menjadi inspirasi utama dalam buku ini. Grup tersebut telah menjaga napas tradisi karinding sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus mencintai budaya lokal. Praktik berkesenian Bilik Jasinga menjadi studi kasus bagaimana seni tradisi bisa masuk ke ruang kelas.
*Sasaran dan Harapan*
Buku ini ditujukan bagi para pembaca intelektual, baik pendidik, pelajar, maupun pemerhati budaya dan pendidikan, yang memiliki kepedulian terhadap integrasi kearifan lokal dalam dunia pendidikan modern.
“Semoga buku ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat identitas bangsa sekaligus membuka cakrawala global melalui seni, sains, dan pendidikan,” tulis tim penyusun dalam pengantar buku.
Buku ini diharapkan menjadi referensi bagi sekolah dan kampus lain yang ingin mengembangkan model pembelajaran berbasis budaya lokal tanpa meninggalkan standar akademik dan tuntutan global.


0Komentar